Cikgunurul’s Weblog

sebagai wasilah Islam dari cikgunurul

sebagai renungan sahabat2 sekalian..adakah ini bayangan neraka yang akan mengazab hamba2 yg ingkar dgn suruhan Penciptanya November 17, 2007

Filed under: Uncategorized — cikgunurul @ 9:11 am

21_sun_jpg.jpg

adakah ini bayangan neraka yang akan mengazab hamba2 yg ingkar dgn suruhan Penciptanya

21_sun_jpg.jpg

Sebagai panduan untuk menjalani kehidupan didunia yang sementara Cuma!!!

Ikutilah kisahnye……

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan
nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang
kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang
dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara
material,mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala
kelengkapan sudah disiapkan. ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke
tanah suci. Keadaan keduanya sihat walafiat, tak kurang satu apapun.
Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru
panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik Allahuma labaik, aku datang
memenuhi seruanMu ya Allah”.

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu,
lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna
hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi dia terdiam.
Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh
anaknya.

Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah
ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti
mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia
mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesihatan matanya. Beberapa minit yang
lalu dia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki
Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang
sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya.

Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap
rahmatNYA.Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala
kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya. Hasan
tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang
sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugerah-Nya, dengan
menatap Ka’bah, kelak. Anak yang soleh itu berniat akan kembali membawa
ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak
kepadanya.

Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan
didekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan
symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak dapat melihat Ka’bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun
berikutnya.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di
Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap.
Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu
berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.Hasan tak habis fikir,
dia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan
Ka’bah.

Padahal, setiap kali berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu
normal. Dia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga
mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperlakukan ibunya,
sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk
dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama,
yang dapat membantu permasalahannya.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal
kerana kesohlehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa
kesulitan bererti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia
pun mengutarakan masalah kepada ulama yang soleh ini. Ulama itu
mendengarkan dengan saksama, kemudian meminta agar Ibu Hasan perlu
menelefonnya. Anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah
kelahirannya, dia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi
tersebut.

Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun menelefon
ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah
suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali,
mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu,
sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap
terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya. “Anda
harus berterus-terang kepada saya, karana masalah anda bukan masalah
senang,” kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian dia
meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama
itu tidak mendapat sebarang khabar dari Sarah.

Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah
menelefon. “Ustaz, waktu masih muda, saya bekerja sebagai jururawat di
rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya. “Oh, bagus….. Pekerjaan jururawat
adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu. “Tapi saya mencari wang
sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya
itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang. Ulama itu terkejut. Ia
tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.

“Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karana tidak
semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang
menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan,
dengan imbuhan wang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan
mereka.”

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. “Astagfirullah.
…” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah
Allah untuk melahirkan anak. Bayangkan, betapa banyak keluarga yang
telah dirosaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak
tahu, bahawa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.
Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas.

Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam
masalah mahram atau muhrim, iaitu orang-orang yang tidak boleh
dinikahi.”Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah. “Cuma itu ?” tanya
ulama terperanjat. “Tahukah anda bahawa perbuatan anda itu dosa yang
luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah anda hancurkan!”. ucap
ulama dengan nada tinggi.”Lalu apa lagi yang Anda kerjakan? tanya ulama
itu lagi sedikit kesal. “Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas
memandikan orang mati.” “Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata
ulama. “Ya, tapi saya memandikan orang mati karana ada kerja sama dengan
tukang sihir.” “Maksudnya?” tanya ulama tidak mengerti. “Setiap saya
bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala
perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam
tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya
masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”

“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya
memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan
lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti
terpental, tidak hendak masuk, walaupun saya sudah menekannya
dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya cuba lagi
begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya
masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya
lakukan.” Mendengar pertuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa,
ulama itu berteriak marah. “Cuma itu yang kamu lakukan ?”. “Masya
Allah….!!! Saya tidak dapat bantu anda. Saya angkat tangan”.Ulama itu
amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah
terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi dia adalah wanita,
yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi
dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya
ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, kerana hanya
Dialah yang dapat mengampuni dosa Anda.”

Bumi menolaknya.
Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar
khabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mendapat tahu dengan
menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertaubat atas
segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa
Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya.Kerana tak juga memperoleh
khabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di Mesir. Kebetulan yang
menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan khabar
Sarah,ternyata khabar duka yang diterima ulama itu. “Ummi sudah
meninggal dua hari setelah menelefon ustad,” ujar Hasan. Ulama itu
terkejut mendengar khabar tersebut. “Bagaimana ibumu meninggal, Hasan
?”. Tanya ulama itu. Hasan pun akhirnya bercerita : Setelah menelefon
ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang
mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah
digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas izin Allah, tanah itu
rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain
untuk digali. Peristiwa itu berulang kembali. Tanah yang sudah digali
kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu
cepat, sehingga tidak seorangpun penghantar jenazah yang menyedari
bahawa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang.
Para penghantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan
merasakan sesuatu yang aneh terjadi.Mereka yakin, kejadian tersebut
pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayat. Waktu terus berlalu, para
penggali kubur putus-asa kerana pekerjaan mereka tak juga selesai. Siang
pun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hamper maghrib, tidak ada
satu pun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan
beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah
kering kerontang. Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada
ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu
tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan
termenung di tanah perkuburan seorangdiri. Dengan izin Allah,tiba-tiba
berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian
khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, kerana terhalang
tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan
kemudian berkata padanya,”

Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu. Hasan lega
mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan
menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur menggali lubang dan kemudian
mengebumikan ibunya. “Aku minta supaya kau jangan menengok ke belakang,
sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia
meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi
pemakaman,terselit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan
jenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan,
melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti
seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari
arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan.Dengan
langkah seribu, dia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Demikian yang
diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh
wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman kerana terbakar.

Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan
Hasan. Dia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan
meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan
oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa
yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu. Ulama itu
meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan
sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan izin Allah akan
hilang.

Benar saja,tak berapa lama kemudian Hasan kembali memberitahu ulama itu,
bahawa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin
hari bekas kehitamannya hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan
ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun
perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh
Allah SWT.

Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita
semua. Wang $50.000 atau $50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak
derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45
minit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu
untuk pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga tetapi
tidak ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk
memasukinya.

Kita mengirimkan ribuan ‘jokes’ dan ‘ surat berantai’ melalui e-mail
tetapi bila mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali berfikir
2 atau 3 kali.

OLEH ITU JANGAN BIARKAN DIRI KITA INI MENJADI SEBAHAGIAN DARI KELUCUAN
TERSEBUT, INSYA’ALLAH

 

One Response to “sebagai renungan sahabat2 sekalian..adakah ini bayangan neraka yang akan mengazab hamba2 yg ingkar dgn suruhan Penciptanya”

  1. nouralhouda Says:

    I invite you to visit my site web

    http://www.nourmohamed.com

    it guide you to the truth.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s